27 C
Medan
8 May 2021
KORANMEDAN
Home | MASA DEPAN HMI DALAM HIKMAH KERAGAMAN (Dialog Menjelang Musda KAHMI Medan)
Agama

MASA DEPAN HMI DALAM HIKMAH KERAGAMAN (Dialog Menjelang Musda KAHMI Medan)

 

Oleh: Harliansyah, Ph.D, Dosen Pascasarjana Biomedik Universitas YARSI Jakarta

(Koranmedan.Online)

Kehadiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia telah memberikan bekal pendidikan organisasi dan pendidikan politik terhadap anggotanya sesuai ajaran Islam. Melalui diskusi-diskusi yang berkembang, kader HMI dapat menyadari hak dan kewajibannya terhadap masalah-masalah kenegaraan, lingkungan masyarakat dan pembangunan secara menyeluruh.
Dalam kehidupan HMI, kesadaran kita dibangkitkan sehingga muncul kepekaan dari setiap kader HMI terhadap keadaan disekelilingnya dan mengasah dirinya sebagai intelektual yang agamis.

Tanpa adanya kesadaran dan kepekaan, maka tingkat partisipasi masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara akan menjadi rendah sehingga menghambat laju pembangunan nasional. Disinilah perlunya mahasiswa ikut berorganisasi secara ekstra kampus. Kader HMI diharapkan mampu menjadi alat perjuangan dalam mentransformasikan gagasan dan aksi terhadap rumusan cita yakni terbinanya insan akademis pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.

Melalui kegiatan traning perkaderannya, HMI membina kader-kader umat dan bangsa menjadi insan cita pemimpin masa depan. Kader-kader insan cita ini memiliki kesamaan visi dan konsep tentang umat dan bangsa meskipun berbeda latar belakang dalam hal mazhab, daerah asal, suku, budaya bahkan bidang ilmu pengetahuan. Daya sorot kader HMI terhadap persoalan bangsa akan tampak jelas terlihat dalam perjuangannya bersama kaum tertindas dengan senjata ideologis yang kuat.

Walau demikian, dalam diri setiap kader HMI akan terdapat keragaman sebagai hakikat alami manusia. Menolak sebuah keragaman sama artinya menolak kenyataan hidup manusia. Dan menolak kenyataan hidup menjadikan hidup tidak nyaman karena hal semacam ini akan dapat menjadikan kehidupan kader dalam bingkai mimpi.

Keragaman yang lahir sebagai kodrat manusia seharusnya dapat diterima. Inilah yang mendasari HMI sebagai organisasi Independen.
Selama kurun waktu 74 tahun sejak berdirinya HMI pada tanggal 5 Februari 1947 bertepatan 14 Rabi’ul Awal 1366 H, HMI memiliki motivasi dasar untuk mempertahankan NKRI serta menegakkan dan mengembangkan ajaran Islam sebagai rahmatal lil’alamin. Dengan begitu nilai KeIslaman dan KeIndonesiaan adalah dua entitas perjuangan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya.

Namun demikian seiring perjalanan waktu dan perubahan global yang tengah terjadi di mana manusia akan tergantikan mesin atas nama kebebasan dan individualisme dari Homo Sapiens menjadi Homo Deus, maka muncul pertanyaan mendasar bagi setiap diri kader HMI : Akan ke manakah kita pergi menyikapi masa depan ini. Beradaptasi atau Musnah?.
Boleh jadi Nilai-Nilai Perjuangan HMI yang telah digadang-gadangkan sebelumnya justeru mengalami degradasi sehingga membuat hidup kita lebih buruk dan lebih kelabu. Di tengah masalah yang beragam ini, akankah kader HmI mampu menyeimbangkan antara kebutuhan spritual dan material mengikuti gelombang globalisasi dan inovasi baru.
Pertanyaan mendasar yang perlu dijawab oleh setiap kader HMI adalah menyangkut seberapa besar kontrol yang diterapkan di tengah masyarakat yang semakin pluralis.

Selama kurun waktu setahun ini (2019-2020) kita berada di era Pandemi akibat mewabahnya virus SARCOV 2. Akibatnya aktivitas perkantoran, akademik, perdagangan lebih di dominasi secara virtual yang di akses melalui on line.

Boleh jadi era inilah yang dimaksud dengan industri 4.0. Pada sistem industri 4.0 di mana perubahan besar terjadi secara otomatisasi dengan pengolahan data secara interactive on line communication menggunakan interconnected network (internet), maka tentu saja keadaan ini membuka tabir bagi segenap derap aktivitas HMI untuk ikut juga melakukan perkaderannya secara virtual seperti saat ini. Namun ditinjau dari administrasi dan legasi, keberadaan sistem digital berbentuk virtual perlu mendapat penyesuaian untuk adaptasi.

Dalam keadaan ini faktor yang dianggap mampu menghubungkan agenda politik, gerakan sosial, proses pengambilan keputusan dapat dilakukan melalui internet dan media sosial. Untuk itulah penetapan Visi menjadikankan rumah IT bagi kandidat saudara Dr. Muhammad Furqan, SSI .,MICom dianggap relevan dan cukup inspiratif. ***

Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat FMIPA USU Periode 1988-1989.

Berita Terkait