27 C
Medan
8 May 2021
KORANMEDAN
Home | Mencegah Bencana dengan Beriman dan Bertakwa
Komentorial

Mencegah Bencana dengan Beriman dan Bertakwa

gambar ilustrasi banjir. (dok)

Catatan Zul Anwar Ali Marbun, Pemimpin Redaksi Koranmedan.Online.

Rasulullah SAW bersabda, ”Umatku ini dirahmati Allah, akan tetapi ada siksaan mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan, dan musibah-musibah lainnya.” (HR Abu Daud).

Berangkat dari bunyi hadist di atas tergambar kepada kita betapa bencana alam maupun bencana non alam adalah bagian dari peringatan Allah SWT kepada manusia. Dalam pengertian lain bahkan bisa disebut sebagai azab atau siksaan dikarenakan keingkaran manusia yang tidak mau beriman dan bertakwa kepada Allah Sang Pencipta Kehidupan.

Nabi Nuh Alaihis Salam (AS) terkenal dengan kisah kapal untuk mengarungi banjir besar. Namun, di luar bahteranya, ada banyak hikmah dan pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Nabi Nuh.

Nabi Nuh adalah nabi ketiga yang patut diimani setelah Nabi Adam AS dan Nabi Idris AS. Nuh merupakan keturunan kesembilan dari Nabi Adam.

Nama Nuh berasal dari bahasa Syria yang berarti ‘bersyukur’. Nabi Nuh juga mendapatkan gelar dari Allah SWT sebagai abdussyakur. Gelar itu berarti hamba yang banyak bersyukur sesuai terjemahan surat Al-Isra ayat 3.

“(Yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya dia adalah hamba Allah yang banyak bersyukur,” bunyi terjemahan surat Al-Isra ayat 3.

Nabi Nuh juga masuk dalam rasul Ulul Azmi, yaitu rasul dengan ketabahan dan keteguhan hati yang luar biasa. Sesuai surat Al-Ankabut ayat 14, Nabi Nuh bahkan berdakwah selama 950 tahun.

Nabi Nuh diutus oleh Allah SWT untuk menyerukan ajaran Allah pada umat Bani Rasib yang menyembah berhala berupa patung-patung. Kezaliman di masa itu juga tengah meningkat pesat.

Dengan kesabaran, Nabi Nuh mulai berdakwah kepada umatnya. Dia mengajarkan untuk menyembah Allah, meninggalkan maksiat, dan berbuat kebaikan.

Namun, bukannya menurut, kaum Nabi Nuh tetap saja tak percaya dengan ajaran dan peringatan yang disampaikan. Kaum Bani Rasib bahkan tak percaya bahwa Nabi Nuh merupakan seorang rasul.

“Menurut riwayat, jumlah pengikut Nabi Nuh AS tidak lebih dari 80 orang. Para pengikut Nabi Nuh AS tersebut terdiri dari orang-orang miskin dan lemah,” dikutip dari Nabi Nuh AS: Keajaiban Bahtera Raksasa karya Testriono dan Tim Divaro.

Tapi, Nabi Nuh tak patah arang. Ia tetap melanjutkan dakwah meski menerima banyak celaan. Setiap kali Nabi Nuh berdakwah, mereka justru memasukkan anak jarinya ke telinga dan menutup wajahnya dengan pakaian tanda penolakan. Kisah perjuangan Nabi Nuh ini terdapat dalam Al-Qur’an Surat Nuh ayat 1-12.

Pengikut Nabi Nuh bahkan sampai diusir oleh para penguasa dan orang-orang kaya di masa itu.

Kaum Nabi Nuh juga menantang Nuh untuk mendatangkan azab yang selalu disampaikan oleh Nuh.

“Mereka berkata ‘Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar’.” Berikut bunyi terjemahan surat Hud ayat 32.

Nuh lalu menjawab bahwa azab itu hanya bisa didatangkan oleh Allah. Allah lalu meminta Nabi Nuh tak bersedih dan tetap teguh pada pendirian.

Nabi Nuh lalu berdoa agar Allah memberi hukuman pada orang-orang kafir tersebut. Allah lantas memerintahkan Nabi Nuh untuk membuat sebuah bahtera berupa kapal besar untuk mengangkut orang yang beriman beserta sepasang hewan. Allah menyebut orang-orang kafir itu akan ditenggelamkan.

Atas perintah itu, Nabi Nuh mengumpulkan pengikutnya dan bergotong royong membuat bahtera dari kayu selama siang dan malam dalam beberapa tahun. Kerja keras Nabi Nuh ini juga mendapat cemooh dari orang-orang yang tercela.

Setelah bahtera itu dibuat dan tanda banjir besar bakal datang, Nuh memerintahkan pengikutnya untuk naik ke kapal. Perlahan, air bah pun mulai menggenang menenggelamkan daratan.

“Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan. Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal,” bunyi terjemahan surat Asy-Syu’ara ayat 119-120.

Dalam orang-orang yang ditenggelamkan itu, termasuk putra sulung Nabi Nuh, Kan’an dan istrinya yang durhaka. Nabi Nuh sempat mengajak Kan’an naik ke atas kapal, tapi ia menolak dan yakin dapat menyelamatkan diri dari air besar itu.

Nabi Nuh lalu menyadari bahwa cinta pada anaknya membuatnya lupa pada Allah. Nuh lalu memohon ampun kepada Allah dan mengikhlaskan anaknya yang meninggal dan masuk dalam golongan orang kafir.

Kapal Nabi Nuh lalu menepi di pegunungan Arafat. Setelah air surut, Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk turun dan memulai kehidupan baru.

Dari kisah Nabi Nuh tersebut, kiranya kita dapat mengambil keteguhan dan kesabaran Nabi Nuh dalam bersyukur dan beribadah kepada Allah SWT sebagai salah satu pelajaran penting.

Dari kisah ini pula diketahui bahwa janji Allah berupa azab dan pembalasan berupa bencana adalah benar. Pembalasan akan datang pada waktunya. Allah juga hanya akan menyelamatkan umatnya yang beriman.

“Saat mengalami ujian dari Allah, orang selamat atau tidak, tergantung rahmat Allah, bukan karena keturunan siapa, bukan karena anak Nabi. Kalau tidak bertakwa, nasibnya akan seperti anak Nabi Nuh,” kata Al-Ustadz Drs. H. Muslim Lubis, MA pimpinan sekolah Islam Terpadu As-Syiriah Perumnas Mandala Medan.

Kesimpulan

1. Bencana tidak akan diturunkan Allah ke bumi selagi manusia tidak berbuat dosa (maksiat).

2. Allah SWT justru akan menurunkan rahmat ke bumi selagi manusia mau beriman dan bertakwa.

3. Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami , maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri. (QS. Al-A’raf ayat 97).

4. Barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya Allah memberikan baginya jalan keluar dari segala kesempitan dan kesusahan yang terjadi padanya. (Qur’an Surat At-Thalaq ayat 2-3 / Tafsir al-Mukhtashar).

Semoga bermanfaat. Nun walqalami wama yasthuruun. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ***

Berita Terkait